Rumah Tua Belanda
Aku tidak mengerti dengan suasana hati yang begitu tiba-tiba, datang tanpa peringatan ataupun aba-aba. Menyebalkan sekaligus menyesakkan. Aku tidak ingin menjadi egois, atau bahkan lebih buruk lagi. Aku hanya ingin tenang dan terus berjalan ke depan.
Celaka! Sungguh. Perjalanan tempo hari mirip seperti sebuah lintasan waktu yang membawa kembali ke masa itu. Semua sudut kota perlahan membaur bersama kenangan, seolah lepas kendali. Bahkan si empunya pun tak memiliki kuasa untuk menghentikannya.
Makin berusaha menepis, maka semakin jelas pula potongan demi potongan melintas—bak sambaran petir, begitu cepat namun meninggalkan bekas. Menjadi tidak adil jika hal ini hanya terjadi padaku saja, sementara yang lain tetap berjalan seperti biasa.
Aku hanya berharap, agar semua bisa segera reda.


Komentar
Posting Komentar