Mi Ayam yang Terlambat Dihidangkan

    Semua bermula dari seporsi mi ayam yang kini telah mendingin, kuahnya mengental, dan mi-nya perlahan mengembang. Seperti kenangan yang tak lagi segar, namun tetap berdiam di sudut ingatan. Rasa yang tertinggal bukan semata tentang bumbu atau rempah, melainkan momen yang mengendap, tak kunjung luruh.
    Ia tak tahu apakah wajar merindukan seseorang di saat seperti ini—di antara kepulan asap warung pinggir jalan dan bangku kayu yang berderit pelan. Namun, ada sesuatu yang mendesak keluar dari celah waktu, mengusik ketenangan yang ia kira telah mapan. Ia ingat tawa yang pernah ada, percakapan yang mengalir tanpa rencana, serta tatapan yang kala itu tak sempat ia tafsirkan lebih jauh.
    Mungkin ia terlalu percaya diri. Atau mungkin, ada percikan yang memang pernah dikirimkan kepadanya, isyarat yang tak sempat ia tangkap. Keberadaannya dulu terasa begitu wajar, begitu mudah, seperti napas yang dihirup tanpa pernah benar-benar dipikirkan. Kini, yang tersisa hanyalah perjalanan mencari mi ayam ternikmat, yang entah sejak kapan berubah menjadi perjalanan mencari makna.
    Ia bertanya-tanya, apakah jalan yang telah ia lalui ini adalah ketidaktahuan yang naif, atau justru sebuah takdir yang memang harus terjadi seperti ini. Namun, tak ada jawaban pasti—hanya aroma mi ayam yang masih menggantung di udara, bersama sisa-sisa perasaan yang belum sepenuhnya reda.

Komentar

Postingan Populer