TIGA DARA DAN ISU-ISU PEREMPUAN INDONESIA

(Source: Pinterest)

Tiga Dara adalah film karya Umar Ismail yang menjadi tonggak sejarah perfilman Indonesia. Ditayangkan secara komersil pada Maret 1956, Tiga Dara sukses hingga membangkitkan Perfini yang kala itu diambang krisis. Tahun-tahun selanjutnya, pada 1960 film ini berhasil sampai di Malaysia karena minat masyarakat yang besar. Juga, film ini berhasil meraih Piala Citra dari Festival Film Indonesia (kategori tata musik terbaik – Sjaiful Bahri).

Tidak cukup sampai disitu, pada 11 Agustus 2016 film ini akhirnya selesai direstorasi dan tayang di bioskop Indonesia. Dikarenakan seluloid yang sudah rusak, hal ini cukup jarang terjadi karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit tentunya. Proses pembersihan seluloid film dan digitalisasi dilakukan di Indonesia, sedangkan restorasi di studio L’Immagine Ritrovata Italia, diperkirakan memakan biaya sekitar Rp.2,5 milyar (soure: kincir.com)

Berkisah tentang tiga bersaudara Nunung (Citra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), Neni (Indriati Iskak) yang hidup bersama ayah dan neneknya, setelah kepergian sang ibunda. Dipadukan dengan gaya musikal Hollywood-esque, namun juga tidak mengesampingkan adat ketimuran yang dipegang masyarakat Indonesia. Diluar kesusksesan film ini dan perannya menjadi tonggak sejarah, ada beberapa hal yang menjadi highlight tulisan saya kali ini. Bukan soal kualitas film tetapi isu yang coba dibawa oleh film Tiga Dara, menyoal tentang bagaimana perempuan-perempuan Indonesia menghadapi tuntutan yang ada.

Nunung dan usia hampir kepala tiga

Fokus permasalahan utama adalah tentang keinginan sang nenek untuk melihat cucu pertamanya kawin. Tipikal masyarakat konservatif yang melihat usia sebagai suatu aib, beberapa dialog seperti “bagaimana jika kau menjadi perawan tua?”. Berbagai cara telah dilakukan oleh nenek dan ayahnya (sampai membuat saya ‘haruskah sampai sebegitunya?) dari mengenalkan dengan teman ayahnya hingga membawanya ke pesta. Unfortunetly, this still happens today, jikalau perempuan belum menikah apalagi usia lebih dua-lima sangat tak elok dilihat. Bahkan gadis-gadis saja sudah buru-buru dinikahkan, konon katanya takut menjadi perawan tua, tanpa memiliki hak untuk mempertimbangkan dan memilih sepenuhnya.

Nunung dan gelar kakak pertama

Sebagai kakak perempuan pertama, Nunung menjadi sosok kakak sekaligus pengganti ibunya yang telah meninggal. Ia mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan mengurus semua anggota keluarga. Kedua adiknya yang manja dan suka berpesata, ayah yang selalu bekerja dan nenek kolot betul, cukup membuat saya menghela napas (i don’t know how patient she is haha). Beban sebagai anak sulung apalagi setelah kepergian ibunya menjadi sangat amat berat bagi Nunung, tapi disisi lain dia dituntut untuk segera menikah. Bisa dibayangkan? jika dia adalah generasi Z yang melek akan isu mental health, bisa dipastikan dia akan mengadu di base twitter (just joking).

Mitos melangkahi kakak pertama

Paruh pertangahan film menunjukkan kalau Nana sudah bertunangan dan akan segera menikah, namun hal itu ditolak keras oleh sang nenek karena dianggap akan membawa bencana. Mitos yang tetap dipercaya masayarkat hingga ini, padahal dalam agama Islam pun tidak ada larangan. Tetapi kembali lagi karena ini soal keyakinan yang telah mendarah daging jadi cukup sulit untuk dihilangkan dalam masyarakat.

Jadi opini pribadi mengenai film ini: entah karena lebih dahulu menonton Asrama Dara (1958) dibanding Tiga Dara (1956) rasanya saya lebih prefer dengan plot cerita Asrama Dara, even sama-sama film Umar Ismail dan dibintangi juga oleh Citra Dewi dan Mieke Wijaya. Soal perjodohan juga, tapi di film Asrama Dara sosok Rahimah (Citra Dewi) yang dijodohkan bersikeras menolak karena ingin mengejar cita-citanya melanjutkan karir demi menghidupi keluarga (lebih membuat saya pribadi berempati pada karakternya). Terlepas dari itu, overall keduanya bagus untuk ukuran film musikal di tahun itu, lagu-lagunya enak. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer