Soe Hok Gie : Movie (2005)
Prakata : Akhirnya aku bisa selesai menonton film
Gie, yang awalnya sempet maju mundur karena durasinya yang cukup lama. Ditengah
banyaknya tugas yang diberikan dosen selama perkuliahan daring akhir-akhir ini,
aku harus menyisihkan dua jam waktu ngerjain tugas buat nonton ini. (emang sih
aslinya lebih banyak buat rebahan atau sekedar scrolling twitter wkwk). Aku nonton ini bisa dibilang telat, telat
banget malahan. Film yang dibuat tahun 2005 dan lu baru nonton sekarang? Kemana
aja lu bor? Udah lewat lima belas tahun, damn. Ya mon map, waktu sekolah dulu
ga pernah tertarik ginian, revolusi lah, humanism lah. Dulu cuma mikir gimana
caranya dapet peringkat satu, nilai fisika lebih dari tujuh, praktikum kimia
lulus, bisa hafalin kingdom protista, dan bisa nyelesein tugas matematika di
papan. Mungkin aku salah satu yang paling ambis waktu itu, dan mereka nggak tau
seberapa sering aku ngalami psywar ketika masuk program IPA dan peringkat harus
rela turun. Because my abilities aren’t there. (kenapa malah curhat sih wkwk
mon maap)
Oke, anyway soal film ini aku belum bisa kasih rate,
karena tau sendiri based on true story ya.. yang bahkan bukunya aja aku
masih (proses) baca sampe sekarang dan belum selesai. Meskipun dari yang aku
baca ulasan tentang film ini, ada beberapa ketidaksamaan antara cerita asli dan
filmnya. Ya wajar sih bisa dimaklumi karena sebagai penyesuaian juga. Disini ada
beberapa poin yang aku garis bawahi. Aku yakin ketika orang ditanya tentang apa
yang paling berkesan dalam ingatan mereka pastinya plot. Education movie dimana
didalamnya kita diajarkan untuk memiliki idealism, memiliki kepedulian sosial
yang tinggi dan menolak akan ketidakadilan. Sinematografi yang cukup epic,
transisi yang dipakai buat menggambarkan sosok Gie ketika SMA sampai kuliah
nggak kayak transisi kebanyakan. Pelan, digambarkan setiap detailnya sampai
akhirnya dia kuliah di UI dan jadi penulis lepas. Akting pemain yang bagus juga
masuk kelebihan film ini menurutku.
Disamping itu juga ada beberapa hal yang mengganggu,
pribadi sih. Backsound (lagu latar) yang kadang buat aku nggak bisa
denger dialog atau pun monolog tokoh. Literally, lagu-lagunya bagus dan punya
kesan tersendiri buat penonton, kayak lagu genjer-genjer yang dimainkan saat
rombongan PKI lewat jalan raya. Wah itu kesannya sih kayak kita bisa dapet feel-nya
hanya dengan lagu dan adegan. Tapi balik lagi sih, dibeberapa scene lagu
latarnya diputer lebih keras dibanding dialog/monolog si Gie. Dan yang paling
utama sih kayaknya soal “glorifikasi tokoh Gie” entah kalian ngerasa atau
enggak. Tapi penggambaran sosoknya yang cenderung dilebih-lebihkan. Gie adalah
sosok pria yang dingin, tidak banyak bicara, sangat idealism, dan cenderung
tidak mengerti urusan dunia (read: masalah pacar). Mungkin untuk tipe penonton
yang enggak suka sama glorifikasi sejarah dan menekan untuk tidak melebih-lebihkan
sejarah itu sendiri, akan merasa tidak nyaman. Tapi balik lagi ini adalah film
tentang Soe Hok Gie dimana tujuannya untuk menggambarkan dirinya dan semangat
idealism nya. Jadi menurutku kalo buat rujukan sejarah kayaknya film ini enggak
relevan lebih untuk hiburan dan edukasi aja sih.
*Terakhir buat mas Nicholas Saputra gantengnya
tolong biasa aja dong wkwk. Mungkin karena ini juga akhirnya aku nangis
bawang di ending film, karena tau karakter dia harus mati. Ditambah surat yang
dia tulis buat si Ira dan waktu Ira baca sambil nangis, aku makin kejer. Akhir-akhir
ini karena banyak tugas aku jadi agak melankolis hiks.


Jadi pgn nonton juga :""
BalasHapusNonton gih, jgn sampe nyesel kayak aku :(
HapusSalah satu rekomendasi tontonan anak muda tahun 2000-an biar nggak ngonsumsi perkoreaan terooss
BalasHapus